Kambing Samosir, Kambing Ritual Pulau Samosir

Anda pasti tidak asing dengan nama pulau Samosir dan danau Toba. Namun apakah Anda tahu tentang kambing Samosir? Ya, kambing yang satu ini memang berasal dari kabupaten Samosir Sumatera Utara. Kambing dari pulau Samosir ini dianggap sebagai kambing terpilih yang banyak dipergunakan untuk ritual sesuai tradisi mereka. Mengapa demikian? Yuk simak info berikut ini.

Ciri dan Karakter Kambing Samosir

Kambing Samosir dari pulau Samosir memiliki bulu tubuh berwarna putih. Sebagian juga ada yang memiliki belang berwarna kecoklatan. Tanduk kambing ini berwarna cokelat lurus ke atas dengan kepala yang kecil dan ramping. Profil kepalanya lurus seperti kambing pada umumnya.

Ukuran telinganya sedang dengan bentuk tegak yang mengarah ke samping kiri dan kanan. Telinganya berukuran sekitar 10 cm pada kambing jantan dan 9 cm pada betina. Pada kambing jantan, janggutnya tumbuh lebat dan lurus, namun tidak pada kambing betinanya. Bulu tubuh mereka pendek dan cukup halus.

Tubuh hewan ini terbilang padat, berisi dan kompak. Punggungnya lurus namun agak nampak melengkung pada bagian panggulnya. Panjang badannya sekitar 52 cm pada kambing jantan dan 57 cm pada betina. Mereka memiliki ekor yang berukuran kecil dan berdiri tegak.

Kambing ini memiliki bobot cukup baik yaitu sekitar 28 kg untuk jenis kambing jantan dan 21 kg untuk jenis betina. Tinggi pundak kambing jantan mencapai 48 cm untuk jantan dan 50 cm untuk betina.

Kambing ini cukup produktif. Mereka bisa melahirkan 1 sampai 2 ekor anak setiap tahunnya. Setelah 283 hari, kambing betina bisa mulai melahirkan kembali. Jika dirata-rata, laju produksi induk betina berkisar di angka 1,63 anak kambing per tahun.

Kambing ini memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat dengan beberapa kambing lokal lainnya. Secara berurutan kambing ini dekat dengan kambing Marica, Benggala, Jawarandu, Kacang dan Muara.

Kambing Samosir ini memiliki kemampuan dan daya tahan yang cukup baik. Mereka bisa menyesuaikan diri dengan baik pada kondisi lingkungan berbatu dan ekosistem lahan kering. Mengingat pulau Samosir memiliki topografi tanah berupa perbukitan.

Inilah mengapa kambing yang satu ini dapat hidup dengan baik meskipun sedang mengalami musim kemarau panjang. Mereka akan mengonsumsi rumput yang kering. Meski demikian, mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kambing Samosir untuk Ritual Adat

Di daerah Samosir, kambing Samosir memiliki peran yang cukup penting. Mereka banyak dipergunakan untuk berbagai macam ritual adat dan budaya seperti pembangunan rumah, pembangunan makam atau tugu, pengobatan orang sakit dan ritual penolak bala.

Berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar, kambing ini sudah ada di pulau Samosir sejak kehidupan awal suku Batak. Kambing ini terus dibudidayakan karena memenuhi persyaratan untuk dijadikan hewan persembahan dalam berbagai ritual tradisi suku Batak.

Salah satu alasan mengapa dipilih kambing ini adalah karena bulunya yang putih bersih. Kambing yang dipakai untuk keperluan ritual tidak boleh tercampur dengan warna lain. Semua bagian tubuhnya harus berwarna putih baik kepala, kaki, tubuh, kuku hingga tanduknya.

Belakangan ini, kambing asli Samosir mulai di daftarkan ke Organisasi Pangan Dunia sebagai salah satu kekayaan genetik Indonesia. Hal ini bertujuan supaya hewan ternak unik yang satu ini tidak diklaim sebagai kekayaan fauna negara lain.

Dengan diterimanya kambing Samosir sebagai kekayaan fauna Indonesia, peternak nusantara harus berupaya untuk memelihara dan merawatnya dengan baik. Jumlah kambing ini tercatat sekitar 10 ribu ekor pada sensus tahun 2015 yang lalu.

Leave a Reply

0
Scroll to Top