7 Jenis Penyakit Gangguan Reproduksi Pada Sapi Betina

Sapi merupakan salah satu hewan peternakan besar yang tersebar di seluruh Indonesia. Cara beternak sapi memang susah-susah gampang. Beberapa hal yang sering mengganggu peternak sapi adalah penyakit gangguan reproduksi pada sapi. Jika sapi betina mengalami gangguan reproduksi, maka sapi tersebut akan sulit mendapatkan keturunan. Peternakan pun akan menjadi kurang berkembang.

Sebagai peternak yang profesional, Anda harus mengetahui beragam permasalahan reproduksi yang terkait pada sapi betina. Pelajari pula cara penanggulangannya sehingga masalah tersebut bisa diatasi dengan lebih cepat. Berikut beberapa masalah reproduksi sapi yang paling sering mengganggu.

7 Penyakit Gangguan Reproduksi Sapi

Ada banyak penyakit gangguan reproduksi pada sapi yang bisa Anda ketahui. Berikut beberapa diantaranya.

1. Sista Ovarium

Sista ovarium meliputi Folikuler, Ovaria, dan Luteal. Status ovarium bisa dikatakan sistik jika terdiri lebih dari struktur yang memiliki isi cairan yang lebih banyak dibandingkan dengan folikel yang massal.

Penyebab dari gangguan ini adalah gangguan ovulasi dan endokrin. Sapi yang mengalami gangguan ini biasanya memiliki tingkat hormon LH yang rendah. Penanganan bisa dilakukan dengan suntik HCG atau LH atau menggunakan PRID / CIDR selama kurang lebih 12 hari.

2. Anestrus

Jenis penyakit gangguan reproduksi pada sapi ini terjadi pada sapi betina. Betina tidak akan menunjukkan tanda-tanda Estrus dalam waktu lama. Ini diakibatkan oleh tidak ada aktivitas ovaria.

Penyebab selanjutnya adalah gangguan hormon. Tingginya hormon progesterone atau hormon kebuntingan juga menjadi pemicu gangguan ini. Penanganan bisa dilakukan dengan memperbaiki kualitas pangan sehingga skor kondisi tubuh akan meningkat.

3. Ovulasi tertunda

Ovulasi tertunda atau Delayed Ovulation terjadi jika ovulasi pada sapi betina datang dengan tidak tepat waktu. Ini menyebabkan perkawinan yang tidak tepat sehingga pembuahan sulit terjadi. Akhirnya, sapi susah bunting. Penyebab Ovulasi tertunda adalah rendahnya kadar LH. Terapi bisa dilakukan dengan injeksi GnRH.

4. Susbestrus

Susbestrus dan birahi tenang merupakan penyakit gangguan reproduksi pada sapi di mana birahi pada sapi hanya berlangsung dalam waktu yang pendek saja.

Birahi hanya berlangsung hingga 4 jam disertai dengan pelepasan sel telur.Penyebab dari kejadian ini adalah rendahnya kadar estrogen dalam tubuh sapi. Anda bisa melakukan terapi dengan PFG2a serta diberikan GnRH untuk memperbaiki masalah ini.

5. Gangguan Fungsional

Penyebab dari gangguan ini adalah karena organ reproduksi pada sapi tidak bisa berfungsi dengan baik.Ini akan menyebabkan ketidaksuburan atau infertilitas pada sapi. Gangguan ini biasanya disebabkan oleh hormonal yang tidak normal. Untuk mengatasi permasalahan ini, suntik hormon bisa dilakukan oleh peternak.

6. Leptospirosis

Gangguan reproduksi ini disebabkan karena serovar kuman dan abortus pada akhir trimester sapi yang sedang bunting. Jika hal ini terjadi, anak sapi yang dilahirkan akan menjadi lebih lemah bahkan terinfeksi akut.

Gejala sapi bunting yang mengalami masalah ini adalah penurunan berat badan dan cairan urin yang berdarah. Pengobatan dan pencegahan bisa dilakukan dengan perbaikan sanitasi dan vaksinasi setiap tahun.

7. Bovin Trichomoniasis

Gangguan ini terjadi karena protozoa yang bernama Trichomonas Fetus. Ini akan mengakibatkan terjadinya abortus pada kebuntingan muda. Peternakan bisa melakukan pencegahan dengan mengistirahatkan terlebih dahulu proses perkawinan sapi.

Pemeriksaan juga bisa dilakukan dengan memberikan antibiotik. Untuk pejantan sapi yang telah mengalami gangguan ini bisa dipotong saja agar tidak menulari selama dikawinkan. Istirahatkan si betina kurang lebih 1 tahun untuk membuat kondisinya menjadi lebih baik.

Berbagai macam jenis penyakit gangguan reproduksi pada sapi bisa menjadi gambaran bagi peternak sapi untuk menjaga kesehatan ternaknya agar menjadi lebih baik. Bersihkan kandang secara rutin dan berikan pakan yang berkualitas.

Leave a Reply

0
Scroll to Top